APAR adalah elemen krusial dalam sistem keselamatan kebakaran di berbagai fasilitas. Baik itu rumah, kantor, pabrik, atau tempat umum. Namun, memiliki APAR saja tidak cukup. Penempatannya harus sesuai dengan standar jarak penempatan APAR dari Permenaker.
Cara penempatan APAR yang tepat sangat penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menghadapi kebakaran. Lalu, berapa standar jarak penempatan APAR yang efektif sesuai peraturan dari Permenaker? Yuk, mari kita bahas bersama tentang standar ini!
APAR yang ditempatkan pada jarak yang tepat dari area berisiko kebakaran memastikan bahwa alat ini dapat diakses dengan cepat. Jarak penempatan APAR yang tepat sesuai standar dapat mengendalikan atau bahkan memadamkan api sebelum menyebar lebih luas.
Misalnya, jika APAR untuk rumah sakit diletakkan terlalu jauh, waktu yang dibutuhkan untuk mengambil alat tersebut saat terjadi kebakaran bisa terlalu lama. Hal ini pada akhirnya bisa mengakibatkan kebakaran yang semula kecil menjadi membesar dan tak terkendali.
Jika APAR ditempatkan terlalu jauh, ada risiko bahwa api sudah menyebar sebelum alat tersebut bisa digunakan. Sebaliknya, APAR yang mudah dijangkau memungkinkan penanganan segera terhadap titik api, sehingga efektivitas pemadaman meningkat.
Standar jarak penempatan APAR juga memperhatikan keselamatan pengguna. Dalam situasi kebakaran, pengguna harus bisa mengambil APAR tanpa harus melalui jalur yang berbahaya atau terhalang api, sehingga pengguna bisa beroperasi dengan lebih aman.
Dengan mematuhi standar jarak penempatan APAR, kebakaran dapat ditangani lebih cepat untuk mengurangi kerusakan properti. Respon cepat terhadap kebakaran kecil bisa mencegah kebakaran menjadi besar dan menyebabkan kerugian yang lebih parah
Di Indonesia, standar jarak penempatan APAR diatur dalam berbagai regulasi. Salah satu regulasi tersebut adalah Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Permenakertrans) No. 4 Tahun 1980. Apa itu Permenakertrans No. 4 Tahun 1980?
Permenakertrans No. 4 Tahun 1980 adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia, yang mengatur keselamatan kerja termasuk penempatan APAR di tempat kerja.
Peraturan ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua tempat kerja memiliki perlindungan yang memadai terhadap risiko kebakaran. Menurut Permenakertrans No. 4 Tahun 1980, standar jarak penempatan APAR antara lain:
Jarak maksimal antara satu APAR dengan APAR lainnya adalah 15 meter di area dengan risiko kebakaran tinggi. Untuk area dengan risiko kebakaran lebih rendah, standar jarak maksimal penempatan APAR yang disarankan mungkin berbeda sesuai yang ditetapkan oleh ahli keselamatan kerja.
APAR harus ditempatkan di area yang mudah dijangkau oleh pekerja, terutama dalam situasi darurat. Ini berarti APAR harus diletakkan di lokasi yang tidak terhalang oleh benda apapun dan dapat diakses dengan cepat dalam situasi darurat seperti kebakaran.
APAR harus ditempatkan pada ketinggian yang mudah dijangkau. Standar jarak penempatan APAR adalah sekitar 120 cm dari dasar lantai. Penempatan pada ketinggian yang tepat memastikan bahwa APAR dapat diambil dengan cepat dan tanpa hambatan.
Kecuali untuk jenis APAR tertentu, seperti APAR CO2 dan APAR dry chemical powder, dapat ditempatkan dengan posisi lebih rendah. Namun, dengan syarat jarak antara dasar alat pemadam api ringan tidak kurang dari 15 cm dari permukaan lantai.
Standar jarak penempatan APAR harus di dekat titik-titik risiko tinggi kebakaran seperti dapur, ruang boiler, ruang server, dan area penyimpanan bahan mudah terbakar. Selain itu, APAR juga harus diletakkan di dekat pintu keluar dan jalur evakuasi untuk memastikan kemudahan akses.
Lokasi APAR harus ditandai dengan jelas menggunakan tanda yang mudah dikenali. Tanda APAR tersebut harus terlihat dengan jelas, berbentuk segitiga dan berwarna merah. Tinggi pemberian tanda APAR adalah 125 cm dari dasar lantai tepat di atas APAR.
Mematuhi standar jarak pemasangan APAR adalah kunci untuk memastikan alat ini selalu siap digunakan saat dibutuhkan. Lalu, bagaimana cara memastikan bahwa jarak pemasangan APAR selalu sesuai standar Permenaker? Berikut tips yang bisa kamu ikuti:
Memberikan pelatihan kepada semua penghuni atau pekerja tentang cara menggunakan APAR sangat penting. Tujuannya agar semua penghuni gedung bisa lebih siap menghadapi situasi darurat yang bisa terjadi kapan saja. Pelatihan ini harus mencakup:
Audit keselamatan secara berkala sangat penting untuk memastikan bahwa APAR selalu dalam kondisi siap digunakan. Lakukan pemeriksaan visual secara rutin untuk memastikan bahwa APAR tidak terhalang oleh objek lain dan dalam kondisi yang baik.
Secara berkala, lakukan uji fungsi APAR untuk memastikan alat tersebut dapat berfungsi dengan baik sesuai harapan. Jangan lupa juga untuk memeriksa tanggal kadaluarsa APAR dan pastikan untuk mengganti media pemadam api sebelum habis masa pakainya.
Pemeliharaan rutin adalah kunci untuk memastikan APAR selalu dalam kondisi siap pakai. Permenakertrans No 4 Tahun 1980 merekomendasikan inspeksi APAR setiap 6 bulan sekali. Namun, ada baiknya untuk melakukannya secara rutin setiap bulan yang meliputi:
Saat melakukan pemeliharaan rutin, jangan lupa untuk membuat catatan lengkap tentang semua hasil inspeksi APAR. Dokumentasi dan catatan ini penting untuk memastikan bahwa semua APAR telah diperiksa dan dipelihara sesuai jadwal yang ditetapkan.
Di era digital ini, menggunakan kartu APAR manual untuk inspeksi dan pemeliharaan sudah ketinggalan zaman. Kini, saatnya beralih ke teknologi tinggi dengan APAR digital Firefix yang dilengkapi dengan QR code dan dapat diintegrasikan dengan aplikasi Firecek.
Firecek adalah Aplikasi Sistem Proteksi Kebakaran No.1 di Indonesia yang menawarkan berbagai fitur canggih untuk mempermudah manajemen APAR. Dengan Firecek, semua informasi terkait APAR dapat diakses dan dikelola melalui HP.
APAR Firefix dilengkapi dengan QR code yang dapat discan menggunakan Firecek. Ini memungkinkan inspeksi APAR lebih cepat dan mudah hanya dengan menggunakan HP. Tidak perlu lagi menggunakan kartu APAR manual. Fitur dan manfaat Firecek antara lain:
Penggunaan aplikasi digital dalam inspeksi APAR akan mengurangi risiko kesalahan manusia dalam pencatatan data. Semua informasi disimpan secara akurat dan dapat diakses kapan saja, sehingga memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan.
Firecek juga memungkinkan pengelolaan APAR secara terpusat yang sangat berguna untuk perusahaan dengan banyak cabang. Semua data APAR dari berbagai lokasi dapat dikelola dalam satu platform, sehingga memudahkan pemantauan dan pengendalian.
Yuk, beralihlah ke alat pemadam api berteknologi tinggi untuk memastikan perlindungan kebakaran yang lebih baik! Beli APAR Firefix sekarang dan rasakan kemudahan dalam manajemen APAR hanya dengan HP di genggaman tangan.
Kak Nita merupakan Fire Protection Specialist di Firefix.id yang akan membantu siapa saja untuk memahami tentang fire extinguisher, fire hydrant, dan fire system melalui artikel yang ditulis di situs ini.
Hydrant box adalah kotak penyimpanan perlengkapan hydrant, seperti fire hose, nozzle, valve, dan aksesori pendukung…
Selang pemadam kebakaran memegang peran penting dalam sistem proteksi kebakaran karena komponen ini mengalirkan air…
Distributor fire hydrant menjadi salah satu hal penting yang perlu kamu perhatikan saat membangun sistem…
Hydrant box menjadi komponen penting dalam sistem hydrant gedung dengan jenis-jenis yang beragam. Perangkat ini…
Fire hydrant bukan sekadar pilar merah yang berdiri di halaman gedung. Lebih dari itu, sistem…
Fungsi hydrant box terlihat sederhana, tetapi perannya sangat krusial saat kebakaran terjadi. Dalam kondisi darurat,…