Punya APAR saja ternyata belum cukup untuk menjaga keselamatan dari kebakaran. Pemasangan APAR harus tepat untuk meningkatkan keselamatan. Lalu, berapa tinggi pemasangan APAR dari lantai yang ideal sesuai standar? Yuk, mari kita bahas bersama!
Mengapa Tinggi Pemasangan APAR dari Lantai Itu Penting?
Keberadaan APAR memang penting. Tapi, lokasi dan ketinggian pemasangan APAR juga dapat sangat mempengaruhi efektivitasnya saat terjadi kebakaran. Berikut adalah beberapa alasan pentingnya tinggi pemasangan APAR dari lantai sesuai standar:
1. Mudah Diakses dengan Cepat

Salah satu faktor terpenting dalam pemasangan APAR sesuai standar adalah memastikan bahwa alat tersebut dapat diakses dengan cepat dan mudah. APAR yang dipasang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menghambat kemampuan untuk mengakses dan mengoperasikannya.
Tinggi pemasangan APAR dari lantai yang tepat juga memastikan bahwa alat ini mudah ditemukan saat dibutuhkan. APAR yang tersembunyi atau tidak terlihat jelas dapat menunda waktu respons saat kebakaran terjadi, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kerusakan.
2. Terhindar dari Kerusakan & Kontaminasi
Apakah APAR boleh diletakkan di lantai? APAR yang diletakkan langsung di lantai lebih rentan terhadap kerusakan atau kontaminasi dari debu dan kotoran. Tinggi pemasangan APAR dari lantai sesuai standar akan memastikan bahwa APAR terhindar dari kotoran yang dapat mengumpul di lantai.
Selain itu, suhu dan kelembaban dari lantai juga bisa mempengaruhi kualitas media pemadam api di dalam tabung APAR. Hal itu yang pada akhirnya dapat mengganggu mekanisme kerja atau efektivitas dari alat pemadam itu sendiri.
Menurut Permenakertrans No 4 Tahun 1980, APAR tidak boleh dipasang dalam ruangan atau tempat dimana suhu melebihi 49°C atau turun sampai minus 44°C, kecuali apabila alat pemadam api ringan tersebut dibuat khusus untuk suhu diluar batas tersebut di atas.
3. Tinggi Pemasangan APAR dari Lantai Agar Tidak Mengganggu Aktivitas
Tinggi pemasangan APAR dari lantai yang tepat juga melindungi alat ini dari risiko kerusakan akibat aktivitas sehari-hari seperti pembersihan, pemindahan barang, dan lain-lain. Jika diletakkan di lantai, APAR juga bisa menghalangi aktivitas sehari-hari.
Tinggi Pemasangan APAR dari Lantai Agar Mudah Digunakan Saat Darurat
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Permenakertrans) No.4 Tahun 1980 memberikan panduan jelas tentang tinggi pemasangan APAR dari lantai untuk memastikan aksesibilitas dan efektivitas dalam penggunaannya saat darurat.
Standar ini dirancang untuk meningkatkan keselamatan kerja dengan mengatur pemasangan peralatan pemadam kebakaran, termasuk APAR di tempat kerja. Lalu, berapa tinggi pemasangan APAR dari lantai sesuai regulasi tersebut?

Menurut Permenakertrans No. 4 Tahun 1980, pemasangan APAR harus sedemikian rupa sehingga bagian paling atas (puncaknya) berada pada ketinggian 1,2 meter dari permukaan lantai. Kecuali jenis CO2 dan powder dapat ditempatkan lebih rendah dengan syarat jarak antara dasar APAR tidak kurang 15 cm dan permukaan lantai.
Kisaran tinggi pemasangan APAR dari lantai ini dipilih dengan mempertimbangkan kemampuan rata-rata orang dewasa untuk mencapai APAR tanpa kesulitan. Memasang APAR terlalu rendah atau dekat dari lantai bisa membuatnya sulit dijangkau dalam situasi darurat.
Sementara itu, pemasangan APAR terlalu tinggi juga bisa menyulitkan penggunaan saat darurat. Terutama untuk individu dengan tinggi badan yang lebih pendek. Oleh karena itu, tinggi pemasangan APAR dari lantai paling ideal adalah 15 – 120 cm dari lantai.
Mematuhi standar tinggi pemasangan APAR dari lantai sangat krusial untuk keselamatan tempat kerja. Dengan memastikan bahwa APAR dipasang pada ketinggian yang tepat, setiap organisasi dapat meningkatkan kesiapannya menghadapi kebakaran.
Berapa Jarak Penempatan APAR Menurut Permenaker No 4 Tahun 1980?
Selain tinggi pemasangan APAR dari lantai, jarak penempatan APAR juga tidak kalah penting untuk diperhatikan. Mengapa? Karena jarak yang tepat sangat penting untuk menentukan seberapa cepat api dapat diatasi sebelum berkembang menjadi lebih besar.
APAR yang terlalu jarang ditempatkan dapat menyebabkan penundaan dalam mengakses alat tersebut saat darurat. Hal ini tentu bisa memperburuk situasi kebakaran, meningkatkan risiko kerusakan aset dan properti, bahkan menyebabkan kehilangan nyawa.
Oleh karena itu, menentukan jarak yang ideal antara APAR satu dengan lainnya adalah kunci untuk pengendalian kebakaran yang efektif. Lalu, berapa jarak ideal antara satu APAR dengan alat pemadam api lainnya yang disarankan oleh Permenakertrans?

Permenaker No. 4 Tahun 1980 menetapkan bahwa jarak penempatan APAR satu dengan lainnya atau antara kelompok APAR satu dengan kelompok lainnya tidak boleh melebihi 15 meter.
Jarak dihitung berdasarkan radius aksi atau jangkauan maksimal pengguna untuk mencapai APAR dalam waktu singkat. Standar ini memastikan bahwa dimanapun kebakaran terjadi dalam area tersebut, seseorang dapat dengan cepat mengakses APAR tanpa hambatan.
Permenaker juga mengakomodir penyesuaian jarak ini jika dinilai perlu oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. Hal ini biasanya tergantung pada faktor-faktor khusus tempat kerja seperti:
- Ukuran dan kompleksitas struktur bangunan.
- Jenis bahan yang dikerjakan.
- Potensi risiko kebakaran yang ada.
Misalnya, dalam lingkungan yang sangat mudah terbakar atau di mana bahan mudah terbakar disimpan. Kemungkinan akan disarankan untuk menempatkan APAR lebih dekat satu sama lain daripada standar yang umumnya ditetapkan.
Baca juga: Jenis-jenis APAR dan Klasifikasi Kebakaran yang Bisa Ditangani
Inspeksi APAR Lebih Gampang dengan Aplikasi Manajemen APAR Digital

Inspeksi APAR secara berkala adalah kegiatan wajib yang harus dilakukan untuk memastikan bahwa semua unit APAR dalam kondisi siap pakai setiap saat. Proses inspeksi mencakup pengecekan terhadap beberapa aspek krusial seperti:
- Tekanan: Memastikan bahwa tekanan dalam tabung APAR masih pada level yang optimal untuk operasi.
- Fisik Alat: Memeriksa adanya kerusakan fisik atau korosi yang bisa mempengaruhi fungsi APAR.
- Kadaluarsa: Memverifikasi tanggal kadaluarsa dan mengganti bahan kimia pemadam yang sudah tidak lagi efektif.
- Aksesibilitas: Memastikan bahwa tinggi pemasangan APAR dari lantai mudah diakses, tidak terhalang oleh barang atau peralatan lain.
Inspeksi APAR memastikan bahwa semua unit siap digunakan saat dibutuhkan. Untuk meningkatkan efisiensi dalam inspeksi APAR, Aplikasi Sistem Proteksi Kebakaran No.1 di Indonesia, Firecek, menawarkan solusi teknologi yang inovatif.

Firecek dirancang untuk mempermudah pengelolaan dan inspeksi APAR dengan mengintegrasikan semua proses ke dalam satu platform digital. Berikut adalah beberapa fitur utama yang ditawarkan oleh Firecek:
- Inventory Data APAR: Dengan memasukkan semua data APAR ke dalam satu aplikasi, manajemen menjadi lebih terorganisir dan mudah diakses, memudahkan pelacakan dan penjadwalan inspeksi.
- Checklist Inspeksi Digital: Firecek menyediakan checklist inspeksi APAR digital yang terperinci. Checklist ini menggantikan sistem kartu APAR manual, memastikan tidak ada item yang terlewat dan inspeksi dilakukan dengan standar yang konsisten.
- Laporan Inspeksi Real-time: Laporan hasil inspeksi bisa diakses secara real time dalam aplikasi. Tidak perlu repot membuat laporan hard file menggunakan kertas. Hasil inspeksi bisa langsung diakses saat itu juga.
Dengan fitur tersebut, Firecek mengurangi waktu dan sumber daya yang dibutuhkan untuk manajemen APAR. Hal ini juga meningkatkan keamanan dengan memastikan semua APAR diperiksa dengan benar, meminimalisir risiko gagal fungsi dalam situasi darurat.
Itu dia informasi penting terkait tinggi pemasangan APAR dari lantai menurut Permenaker. Dengan Firecek, manajemen APAR tidak lagi menjadi beban. Hubungi tim Firefix jika ingin konsultasi lebih lanjut terkait teknologi ini.
Kak Nita merupakan Fire Protection Specialist di Firefix.id yang akan membantu siapa saja untuk memahami tentang fire extinguisher, fire hydrant, dan fire system melalui artikel yang ditulis di situs ini.





















